Kontroversi Vaksin Nusantara Menurut Epidemiolog UI: Bukan Vaksin dan Cuma untuk Sultan
Pexels/Artem Podrez
Nasional
Kontroversi Vaksin Nusantara

Epidemiolog UI Tri Yunis Miko Wahyono mengungkap sejumlah fakta soal Vaksin Nusantara yang menurutnya tidak tepat bila disebut sebagai 'vaksin'. Ini penjelasan selengkapnya.

WowKeren - Perkara Vaksin Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto tengah menyedot atensi khalayak luas karena berbagai kontroversi yang mengiringi. Termasuk soal tidak turunnya izin pelaksanaan uji klinis fase II namun Vaksin Nusantara malah hendak disuntikkan kepada sejumlah anggota DPR RI sampai eks Menkes Siti Fadilah.

Banyak pakar yang ikut menanggapi Vaksin Nusantara ini, termasuk ahli epidemiologi Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono. Ketimbang Vaksin Nusantara, dalam pandangan Miko, vaksin Corona buatan Sinovac alias CoronaVac yang sudah diedarkan di masyarakat sudah cukup efektif.

Malah dalam pandangan Miko, Vaksin Nusantara berbasis sel dendritik ini tidak tepat disebut sebagai vaksin."Ini sebenarnya bukan vaksin, tapi terapi sel dendritik yang prosesnya lebih susah dan mahal. Jadi tidak tepat disebut vaksin," kata Miko kepada Republika, Rabu (14/4).

Pandangannya ini serupa dengan yang disampaikan Badan Pengawas Obat dan Makanan, sebab penggunaan sel dendritik sejatinya merupakan bentuk terapi pengobatan. Sebab vaksin adalah produk berisi antigen yang merupakan bagian dari virus, bisa juga berupa virus yang dilemahkan, yang disuntikkan untuk memicu tumbuhnya antibodi di dalam tubuh penerima.


Prinsip ini berbeda dengan Vaksin Nusantara yang menggunakan bahan serum darah dari masing-masing individu yang sebelumnya telah dikenalkan dengan antigen virus Corona. Baru setelahnya serum darah itu sendiri kembali disuntikkan ke dalam tubuh individu terkait.

Miko tak menampik bahwa terapi pengobatan semacam ini sangat berguna. Biasanya terapi sel dendritik ini digunakan untuk pengobatan kanker, namun harganya memang cenderung mahal terutama untuk mengobati COVID-19 yang merupakan wabah penyakit. Karena itulah, tak salah jika Vaksin Nusantara hanya ditujukan kepada kaum berduit.

"Ini memang berguna, tapi tidak bisa digunakan oleh masyarakat secara umum, hanya orang-orang kaya saja," ujar Miko. "Vaksin yang sudah ada sudah cukup efektif."

Di sisi lain, BPOM memang belum menurunkan izin uji klinis fase II untuk Vaksin Nusantara dengan sejumlah pertimbangan. Bahkan meski peneliti utama uji klinis fase II Vaksin Nusantara, Kolonel Jonny, telah menyampaikan deretan kelebihan produk tersebut, BPOM tetap mengungkap setidaknya 6 kejanggalan dari vaksin yang dikembangkan bersama AIVITA Biomedical Ltd., tersebut.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts