Pengakuan Perawat Aktif Protes Insentif yang Dipecat Dari Wisma Atlet
Twitter/KemenkesRI
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Dua petugas Wisma Atlet dikabarkan mendatangi kediaman perawat bernama Fentia Budiman tersebut di Jakarta pada Sabtu (8/5) dan meminta ID Card miliknya.

WowKeren - Seorang perawat yang bertugas di RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet Jakarta aktif menyuarakan isu insentif tenaga kesehatan yang sudah berbulan-bulan belum dibayarkan. Sayangnya, perawat bernama Fentia Budiman tersebut justru dipecat.

Fentia mengaku awalnya ia mendapat telepon dari pihak Wisma Atlet pada Jumat (7/5) pagi. Sesampainya di Wisma Atlet, Fentia diinterogasi oleh polisi yang bertugas di rumah sakit tersebut.

Petugas meminta Fentia untuk membatalkan rencana konferensi pers yang dijadwalkan pukul 15.00 WIB hari itu. Diketahui, konferensi pers tersebut adalah upaya Fentia dan Jaringan Tenaga Kesehatan Indonesia (Jarnakes) dalam menyuarakan sekaligus menuntut insentif yang macet selama beberapa bulan terakhir.

Namun, konferensi pers itu disebut telah melangkahi wewenang dan tak mewakili Wisma Atlet, sehingga harus dibatalkan. "Tidak boleh. Kamu harus hapus link itu. Kalau tidak kamu tahu akibatnya, fatal," kata Fentia menirukan petugas yang diinterogasinya, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (12/5).

Petugas bahkan disebut sempat berniat melaporkan Fentia dengan tuduhan melanggar UU ITE meski akhirnya urung dilakukan. Akhirnya, Fentia pun diminta untuk meneken surat pernyataan untuk membatalkan konferensi pers.

"Kalau sampai aku mau nyebarin link zoom dan membuat siaran pers, aku dapat konsekuensinya," paparnya. "Tapi aku itu diinterogasi selama 5 jam, dari jam 8.00 WIB -13.00 WIB. Dibentak-bentak."


Dua petugas Wisma Atlet kemudian mendatangi kediaman Fentia di Jakarta pada Sabtu (8/5) dan meminta ID Card miliknya. "Mereka datang masih pagi. Jam 07.00 WIB. Pokoknya masih pagi," ungkap Fentia.

Setelah itu, Fentia pun meminta penjelasan terkait statusnya di Wisma Atlet pada Senin (10/5). Fentia menghubungi bagian sekretariat dan meminta kembali ID Card-nya yang diambil tanpa prosedur itu. Pasalnya, Fentia mengaku kala itu masih mendapat sejumlah tugas seperti membantu vaksinasi dan menjadi instruktur di salah satu kegiatan dengan dokter.

Namun hari itu juga, seluruh tugas-tugas Fentia dicabut secara mendadak. Ia pun diminta datang ke ruang sekretariat untuk mengambil surat purna tugas sebagai perawat di Wisma Atlet.

"Jadi aku turun, aku ambil surat. Dibaik-baikin gitu. Ini surat-suratnya sudah selesai. Jadi sudah dipurnakan," terangnya. "Saya sudah tidak lagi bekerja sejak 10 Mei kemarin."

Fentia sendiri mengaku telah mengantongi data sekitar 400 nakes di Wisma Atlet yang belum menerima insentif sejak Desember 2020 hingga April 2021. Padahal, hak nakes selama pandemi telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/4239/2021.

"Saya merasa ada sesuatu yang timpang ketika kami bekerja, dan pemerintah tidak melihat hak kami," pungkasnya. "Buktinya dengan mengabaikan lima bulan tunggakan kami."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts